Rabu, 30 November 2016

Let God Drives Our Life.

Biarkan Tuhan Mengemudikan Hidup Kita

Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa busnya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita.

"Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah:

"Ayah tahu tempatnya?", tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.

"Tahu, jangan kuatir ...", jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?"

"Tahu, jangan kuatir ..."

"Benar, tidak kesasar Ayah?"

"Benar, jangan kuatir ...", jawab Ayah tetap dengan sabar.

"Nanti kalau Asa haus, bagaimana?"

"Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."

"Terus kalau lapar?"

"Tenang, Ayah ajak mampir Asa kerestoran ..."

"Emang ayah tahu tempat restorannya?"

"Tahu, sayang."

"Emang ayah bawa cukup uang?"

"Cukup, sayang ..."

"Kalau Asa pengin ke kamar kecil?"

"Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."

"Emang di musium ada toiletnya?"

"Ada, jangan kuatir ..."

"Ayah bawa tissue juga?"

"Bawa, jangan kuatir ...", kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

"Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?"

"Ayah cari jalan yang lebih cepat, supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti."

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, "Kenapa Asa diam, sayang?"

"Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua.

Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya. Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan didepan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki. Tuhan Yesus memberkati.

Bersahabat Sesudah Putus

Bersahabat Sesudah Putus

Bagaimana jika hubungan pacaran Anda berakhir? Anda tidak sendiri. Hubungan yang gagal itu banyak terjadi di mana-mana. Jadi saat hubungan pacaran Anda berakhir tidak berarti hidup Anda itu berakhir.

Mungkin saat ini Anda sedang sedih dan murung karena hubungan yang gagal itu. Itu suatu yang wajar. Hanya saja jangan biarkan keadaan itu berlarut-larut. Suatu hubungan yang gagal merupakan suatu fakta yang sudah terjadi. Jika itu adalah sesuatu yang tidak dapat diubah dan Anda bersedih untuk hal yang tidak dapat diubah, bukankah itu suatu kesia-siaan?

Kesedihan dan kemurungan mengisap energi Anda. Anda jadi tidak bersemangat melakukan apapun. Memang benar bahwa cinta yang usai itu tidak menyenangkan. Hanya saja sebenarnya adalah pilihan Anda untuk terus sedih dan murung, atau untuk melangkah maju.

Ingat keputusan Anda mempengaruhi pikiran Anda. Pikiran Anda mempengaruhi perasaan Anda. Jadi untuk terus sedih dan murung itu keputusan Anda. Untuk melangkah maju juga keputusan Anda.

Lalu kaitannya dengan itu, setelah hubungan berusai perlukah menjadi sahabat bagi mantan kekasih Anda? Dalam Amsal dikatakan bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Untuk mempertimbangkan mengenai bersahabat dengan mantan kekasih Anda segera setelah hubungan berakhir, Anda butuh hikmat.

Dalam Pengkotbah dikatakan bahwa cinta kuat seperti maut. Bayangkan seorang yang begitu berhikmat seperti Raja Salomo yang menuliskan hal itu. Karena cinta kuat seperti maut, keputusan Anda untuk bersahabat dengan mantan kekasih Anda segera setelah hubungan usai merupakan keputusan yang kurang bijak.

Mengapa demikian? Saya tidak mengatakan bahwa setelah hubungan berakhir Anda perlu memusuhi mantan kekasih Anda. Tentu saja itu hal yang sangat tidak baik. Hanya saja karena cinta kuat seperti maut, Anda juga perlu waktu untuk membuat diri Anda sendiri terbiasa menerima mantan kekasih Anda bukan lagi sebagai kekasih Anda.

Jika Anda menempatkan diri Anda sebagai sahabat segera setelah hubungan itu berakhir, akan relatif lebih sulit dan lebih lama bagi Anda untuk membuat diri Anda terbiasa dengan kenyataan bahwa hubungan Anda telah usai. Mungkin Anda mengatakan bahwa Anda menempatkan diri sebagai sahabat. Hanya saja sulit untuk menjadi sahabat secara murni jika Anda masih memiliki cinta kepada mantan kekasih Anda sebagai lawan jenis Anda.

Permasalahan akan berbeda jika hubungan Anda sudah berakhir sekian lama. Selain itu Anda berdua sudah dapat menerima hal tersebut dan sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Jika hal itu yang terjadi dan jika memang mantan kekasih Anda adalah seorang sahabat yang baik, tidak ada salahnya jika Anda menjalin persahabatan kembali dengannya.

Jadi kuncinya di sini adalah berhikmat untuk memilih yang terbaik bagi Anda, entah untuk bersahabat atau tidak bersahabat dengan mantan kekasih Anda. Semoga Anda bisa mengambil keputusan yang terbaik. Tuhan Yesus memberkati. (Sumber : Angela)

Rendah Hati

Kerendahan Hati Mendahului Kehormatan #By: Ps. Philip Mantofa

Kerendahan hati itu arah, bukan tujuan. Humility is direction, not destination. Tidak ada seorang pun yang sudah ‘berhasil’ rendah hati, tapi yang terpenting adalah terus menjalani hidup dengan sikap rendah hati dari hari ke hari.

Amsal 18:12
"Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan."

Ada empat definisi rendah hati:

1. Rendah hati itu senang jika Tuhan yang mendapat kemuliaan

Kita tidak perlu mencari muka menginginkan pengakuan atau pujian dari orang lain. Alangkah baiknya kebaikan-kebaikan kita dilakukan secara tersembunyi, apalagi dalam pekerjaan Tuhan kita tidak perlu memikirkan royalti (balas jasa). Jangan cash-kan upahmu di dunia! Segala keberhasilan atau pencapaian kita adalah karena anugerah Tuhan yang memampukan kita untuk meraihnya. Hanya Tuhan-lah satu-satunya yang layak menerima segala pujian, hormat, dan kemuliaan, oleh sebab itu jangan ‘curi’ kemuliaan-Nya! Berkat atau masalah dalam hidup ini tergantung dari bagaimana kita meresponinya. Ada berkat yang sesungguhnya merupakan tantangan terselubung yang bisa menghadirkan masalah, namun sebaliknya ada juga masalah yang sebenarnya merupakan kesempatan terselubung yang justru bisa mendatangkan berkat, karena itu kita tidak perlu kecil hati ketika sedang menghadapi masalah, demikian juga jangan berubah setia ketika kesuksesan datang.

1 Korintus 1:26-29
"Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah."

2. Rendah hati itu tidak perlu membuktikan diri apalagi membenarkan diri.

Jangan menganggap dirimu penting. Orang yang rendah hati selalu memberi ruang bagi Tuhan untuk menjelaskan atau membela, baik di dunia maupun akhirat. Dalam sebuah konflik, saat kita mengalami fitnah atau kritik dari orang lain, seringkali lebih mudah untuk bertindak “melakukan sesuatu” demi membela reputasi atau nama baik kita daripada menahan diri “tidak melakukan sesuatu” dan menyerahkan pembelaan sebagai hak Tuhan. Kenyataannya, orang yang menuduh atau mengkritik kita sebenarnya bukanlah orang yang sudah mengenal kita dengan baik. Lucunya, ketika dipuji orang, kita merasa senang setengah mati padahal pujian tersebut dilontarkan oleh seseorang yang juga belum mengenal kita dengan baik, belum tahu kejelekan atau keburukan kita yang sebenarnya. Pujian itu biasanya adalah “fitnah ke atas”, tapi tidak pernah kita tolak, namun ketika dikritik kita merasa perlu membela diri, padahal sejujurnya kritik atau fitnah tersebut adalah balancer atau obat pahit yang justru baik bagi kita. Tidak perlu kita menjawab orang lain lebih dari yang mereka tanyakan. Orang yang rendah hati punya rasa aman dalam Tuhan. Promosi itu datangnya dari Tuhan.

1 Korintus 4:7-13
"Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu. Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini."

3. Rendah hati itu berusaha namun tak akan kecewa.

Manusia boleh merencanakan (dan memang seharusnya membuat perencanaan! supaya tidak ada yang bermalas-malasan), tetapi pada akhirnya Tuhan-lah yang menentukan. Orang yang rendah hati, ketika telah mencoba namun gagal, tidak akan berhenti berjuang atau menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. Ketika rencana yang telah dibuatnya tidak berhasil dan tidak terjadi sesuai harapan, ia tidak akan berhenti mengasihi Tuhan. Orang yang rendah hati selalu mengasihi Tuhan tanpa syarat, karena Tuhan juga telah lebih dulu mengasihi tanpa syarat. Kerendahan hati adalah harga mati demi perkenanan Tuhan dalam hidup kita.

Yakobus 4:13-17
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

4. Rendah hati itu mengalah untuk kepentingan bersama.

Sifat orang yang rendah hati akan terlihat dari caranya berhubungan dengan orang lain. Dalam sebuah hubungan, saat terjadi pertengkaran, seringkali memerlukan pengorbanan dari salah satu pihak untuk mengalah. Sikap mengalah itu mengundang simpati Tuhan. Orang yang mau mengalah itu lebih dewasa, tidak menyimpan dendam, tidak merasa perlu untuk bersitegang dengan “anak kecil”. Kerendahan hati menunjukkan kedewasaan kita. Orang yang rendah hati tidak takut rugi; lebih baik merugi daripada merugikan orang lain, apalagi merugikan (mempermalukan) nama Tuhan.

Filipi 2:2-8
"Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Selasa, 25 Oktober 2016

Sulitnya Bersyukur

Sejauh ini rasa syukur hanya dikeluarkan sebagai tanda seseorang telah mendapatkan sebuah berkat/kebahagiaan. Walaupun begitu, masih saja banyak diantara kita yang belum mengerti cara bersyukur dengan tepat.

Masalah.

Ditambah dengan adanya Masalah dalam hidup, hal itu telah menjadi salah satu faktor terbesar yang menjauhkan kita dari rasa syukur. Padahal, masalah merupakan sebuah proses pembelajaran yang sangat mahal dimana tidak semua orang merasakan proses pembelajaran yang sama. Jadi kita patut bersyukur dengan masalah kita miliki, karena dengan adanya masalah tersebut kita memiliki kesempatan baik untuk 'memanusiakan' lagi diri kita. (Re: menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya)

Menurut saya dengan menjalin hubungan yang tetap hangat dengan Yesus ( dengan cara Berdoa, Saat Teduh dan membaca Alkitab), merupakan hal yang sangat tepat dalam meluapkan rasa syukur. Akan tetapi karena hal sesederhana itulah yang membuat kita manusia sering menghiraukannya dan cenderung meluapkan kedalam bentuk yang lain, seperti perpuluhan.  kebanyakan dari kita mengambil jalan perpuluhan sebagai fokus utama dari ungkapan syukur kita, akan tetapi dewasa ini perpuluhan sudah begitu banyak dijadikan ajang penunjukkan diri bukan hati. Bagi ku setiap perbuatan baik seperti perpuluhan haruslah berasal dari hati kita, sebagai bentuk syukur atas berkat melimpah dalam hidup kita. Akan tetapi kita harus ingat sebelum perpuluhan terlaksana, ada hal yang lebih dahulu kita lakukan yaitu dengan mencoba membangun komunikasi terlebih dahulu dengan Si pemberi berkat dalam hidup kita, yakni Tuhan kita, Yesus Kristus.

Shalom.

Sabtu, 03 September 2016

PASSION without Action is Nothing

Dulu begitu banyak hal yang membuat aku tertarik dan menetapkan hal tersebut sebagai posisiku dimasa depan. (Re: ini bahas hobby)

Tapi aku sadar dengan kepribadian ku saat itu yang hanya bisa mengalir seperti air dimana setiap proses dalam hidup ku diatur oleh kondisi pikiranku dan juga orang tua. Sehingga sering menghiraukan panggilan suara didalam diriku.

- Passion -

Dulu terlalu sering aku menghiraukannya. Karena berharap masa depan ku masih ada, walaupun aku memutuskan akan berpaling jauh dari passion ku dan akan belajar tentang hal baru yang belum ku sukai. Aku belum punya pendirian yang kuat akan keputusan masa depanku.

Banyak hal yang membuat orang memutuskan memilih hal lain sesuai dengan kondisi mereka saat itu. Banyak harapan yang harus direlakan untuk hilang begitu saja karena kita saat itu hanya mampu berharap saja tanpa tindakkan yg nyata dengan tekat yang kuat untuk mimpi kita.

Sekarang aku sadar betapa passion itu sendiri sangat penting dan Sekecil apapun bidang yg kamu sukai, percayalah dengan passion mu itu, kamu akan menghasilkan yang besar pula dimana orang lain kita akan pernah membayangkannya. Jangan tinggalkan 'mereka' (Re: Passion dan Harapanmu) untuk hal apapun, jika kamu  sendiri tidak mau mengharapkan akan datangnya sebuah penyesalan dalam masa depanmu.

Shalom.

Jumat, 02 September 2016

Permainan Pikiran

Hidup
Selama kamu hidup di dunia ini, kamu akan mendapatkan banyak pengalaman dihidupmu baik itu tekanan, kebahagiaan dan kesedihan. Dan kamu sadar apa yg telah dipermainkan dunia ini dalam hidup mu....?
PIKIRANMU.

Pikiran lah yang membawa dirimu untuk mengerti dan merasakan setiap kejadian dalam hidupmu.
Dan kamu tau betapa hebatnya pikiranmu?

Tanpa sadar dia juga dapat membuat dirimu merasa kecewa, sedih bahkan sesak didada tanpa sebuah alasan yang jelas. Bahkan pikiranmu sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu itu bisa datang?

Sampai sekarang yang ku mengerti adalah tentang betapa hebatnya para pejuang hidup (filsuf) dalam memainkan pikiran mereka sendiri. Dengan sebegitu rumitnya segala hal tentang menjalankan pikiran itu sendiri, tetapi mereka berhasil menemukan hal yang membuat mereka mampu mengarahkan pikirannya sehingga banyak hal yang mereka sudah ciptakan sampai pola pikir mereka pun menjadi sebuah kenangan yang abadi hingga saat ini.

Sampe sekarang aku sendiri kurang memahami pikiranku sendiri. Aku kesulitan dalam mengaturnya.

Rabu, 17 Juni 2015

Daftar Paus Gereja Katolik Roma

Berikut adalah daftar Paus Gereja Katolik Roma:
No Nama Masa kepausan Nama lahir
1 Paus Santo Petrus 32-64/67 (?) Simon bin Yunus
2 Paus Santo Linus 67-79 Linus
3 Paus Santo Anakletus 79-88 Anacletus
4 Paus Santo Klemens I 88-97  ?
5 Paus Santo Evaristus 97-105 Aristus
6 Paus Santo Aleksander I 105-115 Alexander
7 Paus Santo Siktus I 115-125 Sixtus, Xystus
8 Paus Santo Telesphorus 125-136 Telesphorus
9 Paus Santo Hyginus 136-140  ?
10 Paus Santo Pius I 140-155 Pius
11 Paus Santo Anisetus 155-166 Anicetus
12 Paus Santo Soter 166-175 Soter
13 Paus Santo Eleutherius 175-189 Eleuterus/Eleutherius
14 Paus Santo Viktor I 189-199  ?
15 Paus Santo Zephyrinus 199-217 Zephyrinus
16 Paus Santo Kallistus I 217-222 Callixtus/Callistus
17 Paus Santo Urbanus I 222-230 Urbanus
18 Paus Santo Pontianus 230-235 Pontian
19 Paus Santo Anterus 235-236 Anterus
20 Paus Santo Fabianus 236-250 Fabianus, Flavianus
21 Paus Santo Kornelius 251-253 Kornelis
22 Paus Santo Lusius I 253-254 Lusius
23 Paus Santo Stefanus I 254-257 Stefanus
24 Paus Santo Siktus II 257-258 Siktus
25 Paus Santo Dionisius 260-268 Dionisius
26 Paus Santo Feliks I 269-274 Feliks
27 Paus Santo Eutychianus 275-283 Eutychianus
28 Paus Santo Gaius 283-296 Gaius, Caius
29 Paus Santo Marselinus 296-304 Marselinus
30 Paus Santo Marsellus I 308-309 Marsellus
31 Paus Santo Eusebius 309-310 Eusebius
32 Paus Santo Meltiades 311-314 Meltiades
33 Paus Santo Silvester I 314-335 Silvester
34 Paus Santo Markus 335-336 Markus
35 Paus Santo Julius I 337-352 Julis
36 Paus Liberius 352-366 Liberius
37 Paus Santo Damasus I 366-383 Damasus
38 Paus Santo Sirikus 384-399 Sirikus
39 Paus Santo Anastasius I 399-401 Anastasius
40 Paus Santo Innosensius I 401-417  ?
41 Paus Santo Zosimus 417-418 Zosimus
42 Paus Santo Bonifasius I 418-422  ?
43 Paus Santo Selestinus I 422-432 Selestinus
44 Paus Santo Siktus III 432-440  ?
45 Paus Santo Leo I 440-461 Leo
46 Paus Santo Hilarius 461-468 Hilarius, Hilarus
47 Paus Santo Simplisius 468-483 Simplisius
48 Paus Santo Feliks III 483-492  ?
49 Paus Santo Gelasius I 492-496 Gelasius
50 Paus Anastasius II 496-498 Anastasius
51 Paus Santo Symnakus 498-514 Symnakus
52 Paus Santo Hormidas 514-523 Hormidas
53 Paus Santo Yohanes I 523-526  ?
54 Paus Santo Feliks IV 526-530  ?
55 Paus Bonifasius II 530-532  ?
56 Paus Yohanes II 533-535 Merkurius
57 Paus Santo Agapitus I 535-536  ?
58 Paus Santo Silverius 536-537 Silverius
59 Paus Vigilius 537-555 Vigilius
60 Paus Pelagius I 556-561 Pelagius
61 Paus Yohanes III 561-574 Yohanes Katelinus
62 Paus Benediktus I 575-579 Benediktus
63 Paus Pelagius II 579-590 Pelagius
64 Paus Santo Gregorius I Agung 590-604 Gregorius
65 Paus Sabianus 604-606  ?
66 Paus Bonifasius III 607  ?
67 Paus Santo Bonifasius IV 608-615  ?
68 Paus Santo Adeodatus I 615-618 Deusdeditus, putra Stefanus
69 Paus Bonifasius V 619-625  ?
70 Paus Honorius I 625-638  ?
71 Paus Severinus 640  ?
72 Paus Yohanes IV 640-642  ?
73 Paus Theodorus I 642-649  ?
74 Paus Santo Martinus I 649-654  ?
75 Paus Santo Eugenius I 654-657  ?
76 Paus Santo Vitalianus 657-672  ?
77 Paus Adeodatus II 672-676  ?
78 Paus Donus 676-678  ?
79 Paus Santo Agathus 678-681  ?
80 Paus Santo Leo II 682-683  ?
81 Paus Santo Benediktus II 684-685  ?
82 Paus Yohanes V 685-686  ?
83 Paus Conon 686-687  ?
84 Paus Santo Sergius I 687-701  ?
85 Paus Yohanes VI 701-705  ?
86 Paus Yohanes VII 705-707  ?
87 Paus Sisinnius 708  ?
88 Paus Konstantinus 708-715 Konstantinus
89 Paus Santo Gregorius II 715-731  ?
90 Paus Santo Gregorius III 731-741  ?
91 Paus Santo Zakarias 741-752 Zakarias, putra Polikronius
92 Paus Stefanus II 752-757  ?
93 Paus Santo Paulus I 757-767  ?
94 Paus Stefanus III 767-772  ?
95 Paus Adrianus I 772-795  ?
96 Paus Santo Leo III 795-816  ?
97 Paus Stefanus IV 816-817  ?
98 Paus Santo Paskalis I 817-824 Paskalis Massimi, putra Bonosus
99 Paus Eugenius II 824-827  ?
100 Paus Valentinus 827  ?
101 Paus Gregorius IV 827-844  ?
102 Paus Sergius II 844-847  ?
103 Paus Santo Leo IV 847-855  ?
104 Paus Benediktus III 855-858  ?
105 Paus Santo Nikolas I Agung 858-867  ?
106 Paus Adrianus II 867-872  ?
107 Paus Yohanes VIII 872-882  ?
108 Paus Marinus I 882-884  ?
109 Paus Santo Adrianus III 884-885  ?
110 Paus Stefanus V 885-891  ?
111 Paus Formosus 891-896  ?
112 Paus Bonifasius VI 896  ?
113 Paus Stefanus VI 896-897  ?
114 Paus Romanus 897  ?
115 Paus Theodorus II 897  ?
116 Paus Yohanes IX 898-900  ?
117 Paus Benediktus IV 900-903  ?
118 Paus Leo V 903  ?
119 Paus Sergius III 904-911 Sergius
120 Paus Anastasius III 911-913 Anastasius
121 Paus Lando 913-914 Lando
122 Paus Yohanes X 914-928 Yohanes
123 Paus Leo VI 928-929 Leo
124 Paus Stefanus VII 929-931 Stefanus
125 Paus Yohanes XI 931-935 Yohanes
126 Paus Leo VII 936-939  ?
127 Paus Stefanus VIII 939-942  ?
128 Paus Marinus II 942-946  ?
129 Paus Agapitus II 946-955 Agapitus
130 Paus Yohanes XII 955-963 Oktavianus
131 Paus Leo VIII 963-964  ?
132 Paus Benediktus V 964  ?
133 Paus Yohanes XIII 965-972 Yohanes
134 Paus Benediktus VI 973-974  ?
135 Paus Benediktus VII 974-983  ?
136 Paus Yohanes XIV 983-984 Peter Campenora
137 Paus Yohanes XV 985-996 Yohanes
138 Paus Gregorius V 996-999 Bruno dari Carinthia
139 Paus Silvester II 999-1003 Gerbert d'Aurillac
140 Paus Yohanes XVII 1003 Siccone
141 Paus Yohanes XVIII 1003-1009 Fasanius
142 Paus Sergius IV 1009-1012 Pietro Martino Boccapecora
143 Paus Benediktus VIII 1012-1024 Theophylactus
144 Paus Yohanes XIX 1024-1032 Romanus
145 Paus Benediktus IX 1032-1044 Theophylactus
146 Paus Silvester III 1045 Yohanes
147 Paus Benediktus IX 1045 Theophylactus
148 Paus Gregorius VI 1045-1046 Yohanes Gratianus
149 Paus Klemens II 1046-1047 Suitger, Lord Morsleben & Hornburg
150 Paus Benediktus IX 1047-1048 Theophylactus
151 Paus Damasus II 1048 Poppo
152 Paus Santo Leo IX 1049-1054 Bruno dari Eguisheim-Dagsburg
153 Paus Viktor II 1055-1057 Gebhard
154 Paus Stefanus IX 1057-1058 Frederick
155 Paus Nikolas II 1058-1061 Gerard
156 Paus Aleksander II 1061-1073 Anselmo da Baggio
157 Paus Santo Gregorius VII 1073-1085 Hildebrand
158 Paus Viktor III 1086-1087 Dauferius atau Desiderius
159 Paus Urbanus II 1088-1099 Otto diLagery
160 Paus Paskalis II 1099-1118 Raniero
161 Paus Gelasius II 1118-1119 Giovanni Caetani
162 Paus Kallistus II 1119-1124 Guido dari Burgundi
163 Paus Honorius II 1124-1130 Lamberto
164 Paus Innosensius II 1130-1143 Gregorio Papareschi
165 Paus Selestinus II 1143-1144 Guido
166 Paus Lusius II 1144-1145 Gerardo Caccianemici
167 Paus Eugenius III 1145-1153 Bernardo Paganelli di Montemagno
168 Paus Anastasius IV 1153-1154 Corrado
169 Paus Adrianus IV 1154-1159 Nicholas Breakspear
170 Paus Aleksander III 1159-1181 Rolando Bandinelli
171 Paus Lusius III 1181-1185 Ubaldo Allucingoli
172 Paus Urbanus III 1185-1187 Uberto Crivelli
173 Paus Gregorius VIII 1187 Alberto de Morra
174 Paus Klemens III 1187-1191 Paulo Scolari
175 Paus Selestinus III 1191-1198 Giacinto Bobone
176 Paus Innosensius III 1198-1216 Lotario dei Conti di Segni
177 Paus Honorius III 1216-1227 Cencio Savelli
178 Paus Gregorius IX 1227-1241 Ugolino, Count Segni
179 Paus Selestinus IV 1241 Goffredo Castiglioni
180 Paus Innosensius IV 1243-1254 Sinibaldo Fieschi
181 Paus Aleksander IV 1254-1261 Rinaldo
182 Paus Urbanus IV 1261-1264 Jacques Pantalon
183 Paus Klemens IV 1265-1268 Guy Foulques atau Guido le Gros
184 Paus Gregorius X 1271-1276 Teobaldo Visconti
185 Paus Innosensius V 1276 Peter dari Tarentaise
186 Paus Adrianus V 1276 Ottobono Fieschi
187 Paus Yohanes XXI 1276-1277 Petrus Juliani atau Petrus Hispanus
188 Paus Nikolas III 1277-1280 Giovanni Gaetano Orsini
189 Paus Martinus IV 1281-1285 Simon de Brie
190 Paus Honorius IV 1285-1287 Giacomo Savelli
191 Paus Nikolas IV 1288-1292 Girolamo Masci
192 Paus Santo Selestinus V 1294 Pietro del Murrone
193 Paus Bonifasius VIII 1294-1303 Benedetto Caetani
194 Paus Benediktus XI 1303-1304 Niccolo Boccasini
195 Paus Klemens V 1305-1314 Bertrand de Got
196 Paus Yohanes XXII 1316-1334 Jacques d'Euse
197 Paus Benediktus XII 1334-1342 Jacques Fournier
198 Paus Klemens VI 1342-1352 Pierre Roger
199 Paus Innosensius VI 1352-1362 Etienne Aubert
200 Paus Urbanus V 1362-1370 Guillaume de Grimoard
201 Paus Gregorius XI 1370-1378 Pierre Roger de Beaufort
202 Paus Urbanus VI 1378-1389 Bartolomeo Prignano
203 Paus Bonifasius IX 1389-1404 Pietro Tomacelli
204 Paus Innosensius VII 1404-1406 Cosma Migliorati
205 Paus Gregorius XII 1406-1415 Angelo Correr
206 Paus Martinus V 1417-1431 Oddone Colonna
207 Paus Eugenius IV 1431-1447 Gabriele Condulmer
208 Paus Nikolas V 1447-1455 Tommaso Parentucelli
209 Paus Kallistus III 1455-1458 Alfonso Borgia
210 Paus Pius II 1458-1464 Enea Silvio Piccolomini
211 Paus Paulus II 1464-1471 Pietro Barbo
212 Paus Siktus IV 1471-1484 Francesco della Rovere
213 Paus Innosensius VIII 1484-1492 Giovanni Battista Cibo
214 Paus Aleksander VI 1492-1503 Rodrigo Borgia
215 Paus Pius III 1503 Francesco Todeschini-Piccolomini
216 Paus Julius II 1503-1513 Giuliano della Rovere
217 Paus Leo X 1513-1521 Giovanni de'Medici
218 Paus Adrianus VI 1522-1523 Adrian Florensz
219 Paus Klemens VII 1523-1534 Giulio de'Medici
220 Paus Paulus III 1534-1549 Alessandro Farnese
221 Paus Julius III 1550-1555 Giovanni Maria Ciocchi
222 Paus Marsellus II 1555 Marcello Cervini
223 Paus Paulus IV 1555-1559 Gian Pietro Carafa
224 Paus Pius IV 1559-1565 Giovan Angelo de'Medici
225 Paus Santo Pius V 1566-1572 Antonio-Michele Ghislieri
226 Paus Gregorius XIII 1572-1585 Ugo Buoncompagni
227 Paus Siktus V 1585-1590 Felice Peretti
228 Paus Urbanus VII 1590 Giambattista Castagna
229 Paus Gregorius XIV 1590-1591 Niccolo Sfondrati
230 Paus Innosensius IX 1591 Giovanni Antonio Facchinetti
231 Paus Klemens VIII 1592-1605 Ippolito Aldobrandini
232 Paus Leo XI 1605 Alessandro de'Medici
233 Paus Paulus V 1605-1621 Camillo Borghese
234 Paus Gregorius XV 1621-1623 Alessandor Ludovisi
235 Paus Urbanus VIII 1623-1644 Maffeo Barberini
236 Paus Innosensius X 1644-1655 Giovanni Battista Pamfili
237 Paus Aleksander VII 1655-1667 Fabio Chigi
238 Paus Klemens IX 1667-1669 Giulio Rospigliosi
239 Paus Klemens X 1670-1676 Emilio Altieri
240 Paus Innosensius XI 1676-1689 Benedetto Odescalchi
241 Paus Aleksander VIII 1689-1691 Pietro Ottoboni
242 Paus Innosensius XII 1691-1700 Antonio Pignatelli
243 Paus Klemens XI 1700-1721 Giovanni Francesco Albani
244 Paus Innosensius XIII 1721-1724 Michelangelo dei Conti
245 Paus Benediktus XIII 1724-1730 Pietro Francesco-Vincenzo Maria-Orsini
246 Paus Klemens XII 1730-1740 Lorenzo Corsini
247 Paus Benediktus XIV 1740-1758 Prospero Lambertini
248 Paus Klemens XIII 1758-1769 Carlo Rezzonico
249 Paus Klemens XIV 1769-1774 Giovanni Vincenzo Antonio-Lorenzo-Ganganelli
250 Paus Pius VI 1775-1799 Giovanni Angelo Braschi
251 Paus Pius VII 1800-1823 Barnaba-Gregorio-Chiaramonti
252 Paus Leo XII 1823-1829 Annibale della Genga
253 Paus Pius VIII 1829-1830 Fracesco Saverio Castiglioni
254 Paus Gregorius XVI 1831-1846 Bartolomeo Alberto-Mauro-Cappelari
255 Paus Pius IX 1846-1878 Giovanni M. Mastai-Ferretti
256 Paus Leo XIII 1878-1903 Gioacchino Pecci
257 Paus Santo Pius X 1903-1914 Giuseppe Sarto
258 Paus Benediktus XV 1914-1922 Giacomo della Chiesa
259 Paus Pius XI 1922-1939 Achille Ratti
260 Paus Pius XII 1939-1958 Eugenio Pacelli
261 Paus Yohanes XXIII 1958-1963 Angelo Giuseppe Roncalli
262 Paus Paulus VI 1963-1978 Giovanni Battista Montini
263 Paus Yohanes Paulus I 1978 Albino Luciani
264 Paus Yohanes Paulus II 1978-2005 Karol Jozef Wojtyla
265 Paus Benediktus XVI 2005-2013 Joseph Alois Ratzinger
266 Paus Fransiskus 2013-sekarang Jorge Mario Bergoglio

Repost: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Paus_Gereja_Katolik_Roma